Postingan

Menampilkan postingan dengan label CERPEN BERSERAH DIRI

BERSERAH DIRI PADA MU (3) TAMAT

  BERSERAH DIRI PADA MU Ratna terdiam terpaku.   Wajahnya terlihat bingung.   Sunyi ruang tamu menambah kebingungannya.   Detik jam dinding tidak juga membunuh kesunyian.   Gorden lusuh dengan motif gambar memudar menjadi sasaran tatapan mata bingung Ratna.   Kursi ruang tamu dengan bahan dari kayu, menambah ketidaknyamanan duduknya. Handphone itu tergeletak di atas meja ruang tamu.   Handphone pun ikut terdiam terpaku.   Mungkin handphone itu juga lelah, setelah tiga puluh menit yang lalu menerima telephone.   Telephone penuh kemarahan dan ancaman dari seseorang. Masih terdengar jelas suara penuh kemarahan itu. “Saya tidak mau tahu.   Sudah setahun saya menunggu.   Kembalikan pinjaman modal itu. Setahun minjam, bagi hasilnya pun tidak jelas setiap bulan. Kadang kasih, kadang nggak.   Saya dirugikan! Saya akan laporkan polisi, penipuan dan penggelapan.   Saya beri waktu satu bulan.   Kembalikan uang seratus juta...

BERSERAH DIRI PADA MU (2)

  BERSERAH DIRI PADA MU Ratna terdiam terpaku.   Wajahnya terlihat bingung.   Sunyi ruang tamu menambah kebingungannya.   Detik jam dinding tidak juga membunuh kesunyian.   Gorden lusuh dengan motif gambar memudar menjadi sasaran tatapan mata bingung Ratna.   Kursi ruang tamu dengan bahan dari kayu jati, menambah ketidaknyamanan duduknya. Handphone itu tergeletak di atas meja ruang tamu.   Handphone pun ikut terdiam terpaku.   Mungkin handphone itu juga lelah, setelah tiga puluh menit yang lalu menerima telephone.   Telephone penuh kemarahan dan ancaman dari seseorang. Masih terdengar jelas suara penuh kemarahan itu. “Saya tidak mau tahu.   Sudah setahun saya menunggu.   Kembalikan pinjaman modal itu. Setahun minjam, bagi hasilnya pun tidak jelas setiap bulan. Kadang kasih, kadang nggak.   Saya dirugikan! Saya akan laporkan polisi, penipuan dan penggelapan.   Saya beri waktu satu bulan.   Kembalikan uang seratus...

BERSERAH DIRI PADA MU

  BERSERAH DIRI PADA MU Ratna terdiam terpaku.   Wajahnya terlihat bingung.   Sunyi ruang tamu menambah kebingungannya.   Detik jam dinding tidak juga membunuh kesunyian.   Gorden lusuh dengan motif gambar memudar menjadi sasaran tatapan mata bingung Ratna.   Kursi ruang tamu dengan bahan dari kayu jati, menambah ketidaknyamanan duduknya. Handphone itu tergeletak di atas meja ruang tamu.   Handphone pun ikut terdiam terpaku.   Mungkin handphone itu juga lelah, setelah tiga puluh menit yang lalu menerima telephone.   Telephone penuh kemarahan dan ancaman dari seseorang. Masih terdengar jelas suara penuh kemarahan itu. “Saya tidak mau tahu.   Sudah setahun saya menunggu.   Kembalikan pinjaman modal itu. Setahun minjam, bagi hasilnya pun tidak jelas setiap bulan. Kadang kasih, kadang nggak.   Saya dirugikan! Saya akan laporkan polisi, penipuan dan penggelapan.   Saya beri waktu satu bulan.   Kembalikan uang seratus...