DIA
DIA Pintu itu terbuka pelan. Sesosok tubuh atletis masuk. Degh … Aku terkaget. Jantungku berdetak lebih cepat. Banyaknya orang di ruangan ini, riuhnya suasana saat ini menolongku. Bahkan temanku, yang duduk di sebelahku pun mungkin tidak akan melihat pucat pasinya wajahku. Mulutku sedikit menganga karena terpana melihat sosok itu. Sosok itu sangat kukenal. Sangat kuingat. Sangat kurindukan. Dua belas purnama tidak bertemu dengannya. Hatiku penuh dengan rasa yang menyesakkan. Aku merasa mataku mulai berkaca-kaca. Rasa rindu dan sedih ini begitu kuat. Dia berjaket biru dongker, motif blueberry. Sudah sekian lama, jaket itu masih dipakainya. Masih teringat jelas olehku, kapan, dimana dengan siapa jaket itu dibeli. Dua tahun yang lalu, kami, aku dan dia, membelinya, di luar Jakarta. Saat itu, dia hanya ingin membeli celana pendek. Dia pemilih dalam membeli barang. Saat itu sudah beberapa toko di mall itu kami...